Jumat, 08 Januari 2016

praktikum desain pondasi

LAPORAN PRAKTIKUM
 DESAIN PONDASI

 
 
 

Dosen Pembimbing :
Amris Azizi ST

Disusun Oleh :
EKA MULYAWATI                (1203010013)





  
TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2014





BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Definisi
Pondasi dalam perencanaan bangunan sangatlah penting , pondasi  menentukan kekuatan suatu bangunan . Fungsi dari pondasi itu sendiri adalah untuk meneruskan beban (gaya) dari konstruksi diatasnya kelapisan tanah dasar yang lebih dalam dan keras.
Tipe pondasi yang digunakan adalah pondasi tiang pancang dengan rata-rata kedalaman bervariasi antara 10-20 m dari elevasi/peil bawah pile cap. Dari hasil data penyelidikan tanah, muka air tanah berada pada kedalaman -00.00 m sampai dengan kedalaman tanah yang cukup.

1.2.   Pondasi Tiang
Pondasi tiang adalah suatu konstruksi pondasi yang mampu menahan gaya vertikal ke sumbu tiang dengan cara menyerap lenturan. Pondasi tiang dibuat menjadi satu kesatuan yang monolit dengan menyatukan pangkal tiang yang terdapat di bawah konstruksi dengan tumpuan pondasi.
Pondasi tiang digunakan untuk suatu bangunan yang tanah dasar di bawah bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung (bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat bangunan dan beban yang diterimanya atau apabila tanah pendukung yang mempunyai daya dukung yang cukup letaknya sangat dalam. Pondasi tiang ini berfungsi untuk menyalurkan beban – beban yang diterimanya dari konstruksi di atasnya kelapisan tanah yang lebih dalam.
Teknik pemasangan pondasi tiang dapat dilakukan dengan pemancangan tiang – tiang baja/beton pracetak atau dengan membuat tiang – tiang beton bertulang yang langsung dicor di tempat (cast in place), yang sebelumnya telah dibuatkan lubang terlebih dahulu.
Pada umumnya pondasi tiang ditempatkan tegak lurus (vertikal) di dalam tanah, tetapi apabila diperlukan dapat dibuat miring agar dapat menahan gaya – gaya horizontal. Sudut kemiringan yang dicapai tergantung dari alat yang digunakan serta disesuaikan pula dengan perencanaan.


1.3.   Kapasitas Daya Dukung Tiang
Tanah harus mampu menopang beban dari setiap konstruksi yang direncanakan yang ditempatkan di atas tanah tersebut. Untuk menghitung daya dukung yang diijinkan untuk suatu tiang dapat dihitung berdasarkan data – data penyelidikan tanah (soil investigation), cara kalender atau dengan tes pembebanan (loading test) pada tiang.
1.4.   Berdasarkan Hasil Cone Penetration Test (CPT)
Uji sondir atau Cone Penetration test (CPT) pada dasarnya adalah untuk memperoleh tahanan ujung qc dan tahanan selimut tiang c. Untuk tanah non – kohesif, Vesic (1967) menyarankan tahanan ujung tiang per satuan luas (fb) kurang lebih sama dengan tahanan konus (qc). Tahanan ujung ultimit tiang dinyatakan dengan persamaan :
dimana :
Qb = Tahanan ujung ultimit tiang (kg)
Ab = Luas penampang ujung tiang (cm2)
qc = Tahanan konus pada ujung tiang (kg/cm2)

Mayerhoff juga menyarankan penggunaan persamaan 2. 3 tersebut, yaitu dengan qc rata – rata dihitung dari 8d di atas dasar tiang sampai 4d di bawah dasar tiang. Bila belum ada data hubungan antara tahanan konus dengan tahanan tanah yang meyakinkan, Tomlinson menyarankan penggunaan faktor ω untuk tahanan ujung sebesar 0, 5.

Nilai Nc berkisar antara 10 sampai 30, tergantung pada sensivitas, kompresibilitas dan adhesi antara tanah dan mata sondir. Dalam hitungan biasanya Nc diambil antara 15 sampai 18, (Bagemann, 1965).
Pada penulisan laporan ini penulis hanya akan memfokuskan pada penggunaan metode langsung saja karena banyaknya data sondir. Metode langsung ini dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya Meyerhoff, Tomlinson dan Bagemann. Pada metode langsung ini, kapasitas daya dukung ultimit (Qult) yaitu beban maksimum yang dapat dipikul pondasi tanpa mengalami keruntuhan, dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :
Qult = Kapasitas daya dukung maksimal/akhir (kg)
qc = Tahanan konus pada ujung tiang (kg/cm2)
Ap = Luas penampang ujung tiang (cm2)
JHL = Tahanan geser total sepanjang tiang (kg/m)
K = Keliling tiang (cm)
Qijin yaitu beban maksimum yang dapat dibebankan terhadap pondasi sehingga persyaratan keamanan terhadap daya dukung dan penurunan dapat terpenuhi. Qijin dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan :
Qijin = Kapasitas daya dukung ijin tiang (kg)
3 = Faktor keamanan (diambil 3, 0)
5 = Faktor keamanan (diambil 5, 0)

1.5.   Tiang Pancang Kelompok (Pile Group)

Pada keadaan sebenarnya jarang sekali didapatkan tiang pancang yang berdiri sendiri (Single Pile), akan tetapi kita sering mendapatkan pondasi tiang pancang dalam bentuk kelompok (Pile Group) seperti dalam Gambar 2.7.
Untuk mempersatukan tiang-tiang pancang tersebut dalam satu kelompok tiang biasanya di atas tiang tersebut diberi poer (footing). Dalam perhitungan poer dianggap/dibuat kaku sempurna, sehingga :
1. Bila beban-beban yang bekerja pada kelompok tiang tersebut menimbulkan penurunan, maka setelah penurunan bidang poer tetap merupakan bidang datar.
2. Gaya yang bekerja pada tiang berbanding lurus dengan penurunan tiang-tiang.

(a)    Untuk kaki tunggal.
(b)   Untuk dinding pondasi.
Gambar 2.2 Pola-pola kelompok tiang pancang khusus (Bowles, J.E., 1991)

1.6.   Jarak antar tiang dalam kelompok
Berdasarkan pada perhitungan. Daya dukung tanah oleh Dirjen Bina Marga Departemen P.U.T.L. diisyaratkan :
dimana :
S = Jarak masing-masing.
D = Diameter tiang.
Biasanya jarak antara 2 tiang dalam kelompok diisyaratkan minimum 0,60 m dan maximum 2,00 m. Ketentuan ini berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

1. Bila S < 2,5 D a. Kemungkinan tanah di sekitar kelompok tiang akan naik terlalu berlebihan karena terdesak oleh tiang-tiang yang dipancang terlalu berdekatan.
b. Terangkatnya tiang-tiang di sekitarnya yang telah dipancang lebih dahulu.
2. Bila S > 3,0 D
Apabila S > 3 D maka tidak ekonomis, karena akan memperbesar ukuran/dimensi dari poer (footing).
1.7.   efisiensi kelompok tiang Metode Converse-Labarre Formula (AASHO)
Disini disyaratkan :
dimana :
Eg = Efisiensi kelompok tiang.
m = Jumlah baris tiang.
n' = Jumlah tiang dalam satu baris.
θ = Arc tg d/s, dalam derajat.
s = Jarak pusat ke pusat tiang
d = Diameter tiang.
1.8.   Pmax yang Terjadi Pada Tiang Akibat Pembebanan
1.9.   Data-data
-          Tiang pancang segi empat
-          Ukuran kolom  ᶲ 60
-          Beban kolom :
Beban aksial , P     = 65     ton
Beban horisontal,H            = 60     ton
Momen arah sb-x   = -137,5 tm
Momen arah sb-y   = 125   tm
-          Mutu beton                        : K-225
-          Mutu baja              : U-24
Dalam hal ini perhitungan yang diperlukan yakni :
-          Kapasitas dukung ijin tekan dan tarik
-          Jumlah tiang
-          Efisiensi kelompok tiang
-          Kontrol beban maksimum pada kelompok tiang
-          Daya dukung horisontal
-          Kontrol defleksi tiang vertical
-          Ukuran pile cap dan gaya geser yang bekerja pada penampang
-          Penulangan pile cap


BAB II
PEMBAHASAN
2.1     DAYA DUKUNG IJIN TEKAN DAN TARIK
Tabel 1 data teknik tiang pancang
Dimensi tiang
25 cm X 25 cm
Luas penampang tiang, AP (cm²)
625
Keliling penampang tiang, Ast (cm)
100
Beban aksial ijin (ton)
84,30

Daya dukung ijin tekan
Pa =  +  
Pa                 = daya dukung ijin tekan tiang
Qc                = tahanan ujung konus sondir
Ap                = luas penampang tiang
Tf                 = total friksi / jumlah hambatan pelekat
Ast               = keliling penampang tiang
FK1,FK2      = Faktor keamanan , FK1 = 3  FK2 = 5

Tabel 2 Daya dukung ijin tekan tiang
Kedalaman (m)
Qc (kg/cm²)
Tf (kg/cm)
Ap (cm²)
Ast (cm)
Pall (ton)
1,00
25
70
625
100
6,608
2,00
145
245
625
100
35,108
3,00
15
350
625
100
10,125
4,00
70
545
625
100
25,483
5,00
200
735
625
100
56,366



Daya dukung ijin tarik
Pta =  + Wp
Pta                = daya dukung ijin tarik tiang
Tf                 = total friksi / jumlah hambatan pelekat
Ast               = keliling penampang tiang
FK2              = Faktor keamanan , FK2 = 5
Wp               = berat pondasi

Table 3 daya dukung ijin tarik tiang
Kedalaman (m)
Tf (kg/cm)
Ap (cm²)
Ast (cm)
Wp (kg)
Pall (ton)
1,00
70
625
100
153
1,203
2,00
245
625
100
306
3,981
3,00
350
625
100
459
5,709
4,00
545
625
100
612
8,787
5,00
735
625
100
765
11,790

Ptiang = Pall(tekan) – Pall(tarik)
            = 56,366 – 11,790
            = 44,576 ton
Dipakai : Pall = 44,576 < 84,30 ton (kapasitas aksial ijin tiang) = (OK)
2.2     JUMLAH TIANG
Table 4 jumlah tiang
Tipe Pondasi
Ukuran Kolom (cm)
Beban, Pu (ton)
Pall (ton)
Jumlah Tiang n=P/Pall
P
θ60
65
44,5
1,46 = 4 tiang



Tipe
Tebal pile cap = 50 cm


Jarak antar tiang
2,5 d ≤ S ≥ 2 d
2,5. 25 ≤ S ≥ 2 . 25
62,5 ≤ S ≥ 50
2.3     EFFISIENSI KELOMPOK TIANG
Eg = 1 - θ

Eg = effisiensi kelompok tiang
Θ = arctg (D/S)
D= ukuran pemampang tiang
S = jarak tiang
m = jumlah tiang dalam 1 kolom
n = jumlah tiang dalam 1 baris

Tabel 5 Effisiensi kelompok tiang
Tipe pondasi
D (cm)
S (cm)
Θ = arctg (D/S)
m
n
Eg
P
25
62,5
21,80
2
2
0,758

Daya dukung vertical kelompok tiang:
= Eg X jumlah tiang X daya dukung tiang
Tipe p = 0,758 x 4 x 44,5 = 134,924 ton > 65 ton ( OK)

2.4     BEBAN MAKSIMUM TIANG PADA KELOMPOK TIANG
Pmax = ±  ±
Xmaks = jarak terpanjang pada sumbu X/2 = 62,5/2 = 31,3 cm = 0,313 m
Ymaks = jarak terpanjang pada sumbu Y/2 = 50/2 =25 cm = 0,25 m
ƩX² = n. (Xmaks)2 = 4 x 0,3132 = 0,392
ƩY² = n. (Ymaks)2 = 4 x 0,252 = 0,25

Tabel 6 Beban maksimum tiang
Tipe pondasi
Pu (ton)
Jumlah tiang
Mx (tm)
My (tm)
Xmaks (m)
Ymaks (m)
ƩX²
ƩY²
Pmaks (ton)
P
65
2
-137,5
125
0,313
0,25
0,125
0,195
6,95

Pmax = ±  ±
Pmax = ±  ±
Pmax = 16,25 + (24,95+ (-34,25))
Pmax = 16.25- 9,3
Pmax = 6.95 ton
Pmaks < Pall =      Ok
6,95 t < 44,5 t = (OK)
2.5     DAYA DUKUNG HORIZONTAL
-          Tiang ujung bebas
-          Tanah granular
Hu =
f           = 0,82
Mmax = Hu (e + 2f/3)


















e = 0,4 cm
L = (5,0-1,5) = 3,5
D = 0,25
 


 







d
 
                                               
φ= 40°
ɣ = 21,6 KN/m³
Kp = tg² (45° + ҩ/2) = tg² (45° + 40°/2) = 4,59
Hu =
= 13,62 KN

F = 0,82 √
= 1,56
Mmax = Hu (e + 2f/3) = 13,62 (0,4 + 2. 1,56/3) = 19,6 tm
Mmaks > My
19,6 tm  < 125 tm          dipakai Mmaks = My

Tabel 7 daya dukung horizontal
Tipe pondasi
My (tm)
F
Hu
Gaya Horizontal (t)
Gaya horizontal tiang (t)
P
125
1,56
13,62
60
15 t

Gaya horizontal tiang < Hu                      Ok
15 t > 13,62 t (tidak ok)                                                                                         
2.6     CONTROL DEFLEKSI TIANG VERTICAL
Dipakai metode borms
-          Tiang ujung bebas
-          Tanah granular
α    = [  ]1/5
nh  = koefisien reaksi subgrade = 11779.106 (terzagi)
Ep = modulus elastisitas tiang = 2.105 KN/mm2 (Mpa) = 2.107 KN/cm2
Ip   = momen inersia penampang tiang = 32,552 cm4

α = [  ] 1/5
= 0,004
αL = 0,004  x 3,5 = 0,014m < 2 tiang à tiang pendek
defleksi lateral :
Yo =
Yo =
Yo = 8,6221.10-09

Tabel 8 Defleksi Lateral
Tipe pondasi
Gaya horizontal H (t)
L (m)
Nh (t/m3)
Yo (m)
P
60
3,5
1.1779.1010
8,6221.10-09

Yo = 8,6221.10-09
8,6221.10-09 <  6 mm -->   OK

2.7     PILE CAP
Mutu beton : K-225  fc’ = 18,675 Mpa
Mutu baja : U-24 fy = 240 Mpa
Tabel 9 Gaya geser 1 arah
Tipe
Pondasi
Jarak tiang (cm)
Jarak tepi (cm)
Luas pile cap (m2)
Tebal pile cap (m)
Pu (t)
Pu / A σ (t/m2)
P
62,5
50
2.64
0,5
65
24,62

Kontrol gaya geser 1 arah
Gaya geser yang bekerja pada penampang :
A   = luas penampang (m2)
      = 62,5 + 50 + 50 + 50 + 50/100 = 2,64 m2
L    = panjang pile cap (mm)
      = 62,5  + 50 + 50   = 162,5 cm = 1625 mm
σ    = P/A(t/m2)
      = 65/2,64
      = 24,62 t/m2
G’ = daerah pembebanan yang di perhitungkan untuk geser penulangan 1 arah
      = L – (L/2 + lebar kolom/2 + d) (mm)
      = 1625-(1625/2 + 600/2+250)
      = 1625- 1362,5
      = 262,5 mm
d    = tebal efektif  pile cap (mm)
      = 444 mm
Vu = σ . L . G’
      = 24,62. 1,625. 0,2625 = 10,50 (t)

Tabel 10 Gaya geser beton 1 arah
Tipe pondasi
Panjang pile cap, L (cm)
d (cm)
Pu /A σ (t/m2)
Vu (t)
φ Vc (t)
P
162,5
44,4
24,62
10,50
30,187

Kuat geser beton
 φVc = φ . 1/6  . b . d
         = 40°.1/6 . 2,36 . 0,444
         = 30,187 t

φ Vc > Vu à OK
30,187 > 10,50 (OK)


Kontrol gaya geser 2 arah
Lebar penampang kritis (B’) :
B’  = Lebar kolom + 2 .  d
      = 0,6 + 2  0,444 = 1,044 m
Vu = σ . (L2  - B’2)
      = 24,62 (1,625 2- 1,0442)
      = 38,17  (t)
βc = panjang kolom/ lebar kolom = ɑk / bk
        = 60/60 = 1
      bo = 4B’ (mm)
          = 4 . 1,044
          = 4,176 (mm)
Besar Vc di ambil nilai terkecil dari :
1.      Vc = (1 +)
      = (1 +)
     = 4006,30  t


2.      Vc = ( + 2)
      = ( + 2)
      = 3132 t

3.      Vc =  
      =  
     = 445,15 t
Diambil Vc = 445,15 t
Tabel 11 gaya geser beton 2 arah
Tipe pondasi
B’ (m)
L (m)
d (m)
Pu /A (t/m2)
Vu (t)
φ Vc (t)
P
1,044
1,625
0,444
24,62
38,17
445,15
φ Vc > Vu à OK
445,15 t > 38,17 t = OK
2.8     PENULANGAN PILE CAP  PONDASI
Lebar penampang kritis :
B’ = ( lebar pile cap /2 ) – (lebar kolom /2) (mm)
     =((50+62,5 +50)/2) – (60/2)
     = 51,25 cm = 512,9 (mm)
Berat pile cap pada penampang kritis :
q’ = 2400.L.d (kg/m’)
    = 2400. 1,625. 0,444
    = 1731,6 (kg/m’)
Mu = 2 (Pu/4) (s) –  q’ B’2
      = 2(65/4) (26,00) –  1731,6 . 0,5125² = 617,6 kNm
n = jumlah tulangan
   = (50+62,5+50)/20 = 8,125 = 9 terjunan
As =    D2 . n (mm2)
     = 1⁄4 . 3,14 .252. 9
      = 4415,25 mm²
a = (As . fy)/ (0,85 .fc’ .b) (mm)
   = ( 0.44 . 240 ) / (0,85. 18,675. 236)
   = 0,0281 (mm)
φMu = φ As. fy (d –  a)
         =40°. 4415,25 .240 (0,444- 1/2 . 0,0281 ) = 18224,032
Dipakai tulangan bawah  D25 – 200 (terpasang 9 tulangan )
Tulangan atas di pakai D25 – 250

Tabel 12 Penulangan Pile Cap
Tipe pondasi
Pu (ton)
B’ (mm)
q’ (kg/m’)
Mu (kNm)
Jumlah tulangan bawah
As (mm2)
a (mm)
φMu (kNm)
P
65
512,9
1731,6
617,6
9
4415,25
0,0281
18224,032

φMu > Mu à OK
18224,032 > 617,6 = OK

D25 - 200
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar